Posted by: difershindo | October 17, 2008

Telkomsel Gunakan Wimax Sebagai Backhaul Seluler

Transmisi menjadi salah satu masalah yang dihadapi industri seluler di Indonesia saat ini dengan karakter negara kepulauan. Keterbatasan jaringan serat optik menjadikan satelit menjadi salah satu link transmisi. Namun, sewa layanan satelit terhitung masih mahal. Pemanfaatan satelit pada gilirannya menjadikan biaya operasi meningkat.

Kendala lain yang dihadapi dalam penyelenggaraan jaringan adalah pasokan listrik. Belum semua daerah terjangkau aliran listrik 24 jam. Untuk mengoperasikan satu BTS reguler dibutuhkan listrik sekira 6 KVA atau 6.000 watt. Pemanfaatan energi alternatif, dengan sendirinya menjadikan biaya operasi juga bertambah.

OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) IP yang dikembangkan Telkomsel baru-baru ini, menjadi varian baru solusi teknologi komunikasi untuk kawasan bahari dan remote area. Berbeda dengan teknologi komunikasi yang disematkan Telkomsel di Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Labobar yang menggunakan teknologi Pico GSM IP dengan memanfaatkan akses VSAT (satelit) dan dukungan autotracking VSAT. Di kapal RORO (roll on roll off) milik ASDP Jatra III, Telkomsel tidak lagi menggunakan akses ke VSAT, namun menggunakan transmisi OFDM.

“OFDM IP yang dikembangkan Telkomsel hanya butuh pasokan listrik yang sangat kecil. Untuk satu site, listrik yang diperlukan kurang dari 100 watt. Pico GSM IP juga membutuhkan listrik sekira 100 watt untuk satu site,” ujar VP Technologi &� Bussines Incubation Telkomsel, Yoseph Garo, melalui keterangannya, Selasa (16/9/2008) kemarin.

Ia menjelaskan bahwa OFDM yang dipancarkan melalui BTS Worldwide Interopeability for Microwave Acces (Wimax) dikoneksikan dengan Femto Wimax yang ada di kapal, serta BTS GSM (reguler). OFDM sendiri memiliki daya pancar antara 65 KM hingga 100 KM, dan dinilai memadai untuk pengembangan solusi komunikasi di Selat Sunda.

Sistem OFDM juga dikenal sebagai satu sistem point to multipoint. OFDM kabarnya akan mampu mencari frekuensi yang sesuai. Utuk layanan berbasis 3G akan digunakan Femto IP, sementara untuk GPRS (2G) digunakan Pico IP. Dua peranti ini juga bisa dikombinasikan. Dengan kemampuan yang dimiliki OFDM, untuk meng-cover layanan pada kapal yang melintas di Selat Sunda, hanya dibutuhkan satu BTS WIMAX saja.

“Selain daya jangkau yang luas, OFDM memiliki kemampuan mentransmisi data yang besar, hingga 100 Mbps. Dengan kapasitas sebesar itu, teknologi ini akan mendukung berbagai kebutuhan, baik telefoni dasar, layanan berbasis video , termasuk akses internet berkecepatan tinggi,” jelas Yoseph Garo.

Bahkan, lanjut dia, apabila digunakan untuk layanan suara, ia mampu mengcover kebutuhan yang besar. Karena untuk satu panggilan telepon hanya dibutuhkan 16 Kbps saja. Kapasitas yang dimiliki, tentu saja bisa dimanfaatkan untuk mendukung layanan suara bagi ribuan atau bahkan puluhan ribu panggilan.

Sukses Telkomsel melakukan ujicoba layanan seluler di KMP Jatra III, sekaligus menandai kehadiran WIMAX di Indonesia. WIMAX saat ini telah menjadi salah satu teknologi yang dikembangkan untuk layanan broadband atau jaringan pita lebar.

Yoseph Garo menjelaskan pada ujicoba di Kapal ASDP Jatra III ini pihaknya menggunakan OFDM. OFDM sendiri secara sederhana adalah teknik modulasi FDM yang digunakan untuk mentransmisikan data digital dalam jumlah besar menggunakan radio wave. FDM bekerja dengan cara memisahkan signal radio dan secara stimulan mentransmisikan signal tersebut ke penerima melalui frequensi yang berbeda-beda. OFDM merupakan transmisi data yang juga digunakan pada WIMAX.

“Ini merupakan pengkombinasian antara teknologi Wimax yang digunakan sebagai backhaul komunikasi seluler GSM,” tandas Yoseph Garo yang juga menambahkan bahwa teknologi ini merupakan yang pertama diimplementasikan di Indonesia, bahkan yang pertama di dunia.

OFDM IP ini, menurutnya, menjadi solusi komunikasi yang akan dikembangkan untuk memberikan solusi komunikasi di kawasan bahari daerah terpencil, daerah terisolir maupun pulau terluar. Sebagaimana Pico GSM IP, OFDM IP menawarkan solusi yang murah dari sisi investasi, hemat konsumsi daya listrik serta mudah diaplikasikan.

Namun begitu, Direktur Utama Telkomsel mengingatkan bahwa sebenarnya solusi komunikasi yang dikembangkan Telkomsel masih menggunakan frekuensi GSM/3G.

“Kami tidak menggunakan frekuensi untuk WIMAX. Sekalipun teknologi yang digunakan sama dengan WIMAX, kami hanya memanfaatkan teknologi yang ada untuk memecahkan solusi kebutuhan transmisi,” papar Kiskenda.

Lebih lanjut Kiskenda mengatakan bahwa dengan keberhasilan ujicoba OFDM IP, kini pihaknya mememiliki dua pilihan solusi teknologi. Menurutnya apapun teknologi yang akan dimanfaatkan, amat bergantung pada karakteristik daerah sasaran, baik Pico GSM IP atau OFDM IP.

“Kita tinggal mengkaji, mana yang paling efisien dan murah,” tegas Kiskenda.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: