Posted by: difershindo | October 21, 2008

Analisis Dampak Kehadiran GMPCS di Indonesia

Global Mobile Personal Communications by Satelite (GMPCS) merupakan pemanfaatan teknologi satelit yang memungkinkan seseorang untuk melakukan komunikasi antar personal secara bergerak (mobile) via satelit dengan cakupan global. Kemajuan ini dimungkinkan karena adanya dukungan teknologi VLSI sehingga memungkinkan satelit melakukan fungsi switching dan routing.Tulisan ini menyoroti seputar munculnya teknologi komunikasi global (GMPCS) yang kehadirannya di Indonesia tidak dapat dicegah lagi karena pemerintah Indonesia telah menandatangani MoU tsb. Dari sudut kompetisi, hal ini akan membawa dampak/pengaruh terhadap operator-operator telekomunikasi di Indonesia.

Overview GMPCS

1. Latar Belakang LahirnyaGMPCS

GMPCS ini lahir atas dorongan ketidakpuasan atas sistem seluler selama ini dimana dalam pemakaiannya terdapat kendala berupa keterbatasan ruang gerak pengguna (mobile unit) yakni sangat

bergantung kepada keberadaan Base Station (Cell Site), artinya untuk memungkinkan seorang pengguna agar dapat melakukan komunikasi di setiap titik di dunia diperlukan jaringan selular dengan wilayah cakupan (coverage area) meliputi seluruh dunia, yang berarti pula pada setiap jarak tertentu di dunia harus dibangun Base Station. Dapat dibayangkan kesulitan teknis yang mungkin timbul, investasi yang cukup besar dan perjalanan waktu pembangunan yang cukup panjang, belum lagi kendala-kendala environment baik yang bersifat alamiah maupun buatan manusia berupa obstacle sehingga menyebabkan adanya blank spot dsb. Dari sinilah timbul gagasan untuk menciptakan jaringan komunikasi bergerak global dengan pemanfaatan satelit untuk meng-cover seluruh wilayah dunia.

Hal ini hanya dimungkinkan jika ada nilai tambah fungsi satelit, yakni tidak hanya sebagai repeater semata tetapi juga harus mampu melakukan

fungsi routing dan switching serta harus dapat diakses oleh perorangan (personal) dan inilah ciri utama yang dimiliki oleh teknologi GMPCS seperti yang kita lihat sekarang ini.

2. Karakteristik GMPCS

GMPCS pertama kali diperkenalkan dalam ITU-report sebagai terminologi untuk sistem satelite mobile yang beroperasi pada frekuensi di atas 1 Ghz dengan slot orbit LEO (Low Earth Orbit) dan MEO (Medium Earth Orbit). Namun dalam perkembangan selanjutnya (seperti tercermin dalam World Telecommunications Polecy Forum, Jenewa, Nopember 1996) mengisyaratkan bahwa lingkup pembahasan GMPCS tidak terbatas hanya pada sistem LEO dan MEO saja tetapi meliputi semua sistem satelit yang digunakan secara langsung ke end user dalam area trans nasional, regional maupun global untuk memenuhi layanan baik yang bersifat mobile terminal maupun fix terminal. Berdasarkan perkembangan lingkup bahasan GMPCS tsb maka dapat disimpulkan, bahwa GMPCS memiliki karakteristik sebagai berikut :

  • Menggunakan satelit GEO, MEO maupun LEO yang cakupannya lebih luas dibanding cakupan satu satelit GEO.
  • Memanfaatkan sistem satelit sebagai media akses bagi end user.
  • Memiliki area layanan yang bersifat trans nasional, regional maupun global.
  • User terminal bersifat mobile maupun fix terminal untuk narrow band maupun broad band services.

3. Profil TeknologiBeberapa sistem GMPCS yang memiliki cakupan di sekitar Indonesia atau di Asia/Asia-Pasifik pada umumnya memiliki profil teknologi GMPCS seperti ditunjukkan dalam Tabel-1.

Analisis Kelayakan Bisnis GMPCS

1. Tinjauan Aspek RegulasiGMPCS dapat dikatakan sebagai revolusioner dalam teknologi telekomunikasi bergerak, karena telah terjadi perubahan mendasar dalam pola penyaluran informasi yakni dengan memungkinkannya akses langsung end user terminal dari dan ke satelit dan juga dengan dimungkinkannya Intersatellite Link (ISL). Hal ini sedikit banyak akan membawa implikasi terhadap aspek regulasi baik dalam negeri (kebijakan nasional) maupun internasional.

1.1. Regulasi Global

1.1. 1. U m u m

Dulu sebelum era GMPCS, lingkup pengaturan-pengaturan penyelenggaraan komunikasi satelit lebih bersifat nasional, artinya pengaturan yang berhubungan dengan penyelenggaraan komunikasi (seperti pengaturan penggunaan frekuensi, prosedur perijinan, spesifikasi perangkat, pentaripan dan ketentuan-ketentuan lainnya) lebih banyak merupakan kewenangan negara yang bersangkutan (kecuali atas perjanjian kerja sama baik bilateral maupun multilateral dengan pola perjanjian sewa sirkit atau leased channel). ITU sebagai regulator dunia menyerahkan segala pengaturannya kepada masing-masing negara, ia hanya menerbitkan rekomendasi-rekomendasi yang sifatnya tidak terlalu mengikat. Kini dengan adanya tuntutan kebutuhan yang segalanya serba mengglobal serta dengan adanya dukungan teknologi, telah menuntut ITU untuk banyak campur tangan dalam pengaturan (regulasi) sehingga dalam beberapa hal yang semula merupakan kewenangan (independensi) suatu negara, kini telah banyak diambilalih oleh badan dunia tersebut termasuk pengaturan penyelenggaraan telekomunikasi radio. Segala pengaturan penyelenggaraan komunikasi radio yang telah disepakati bersama (negara-negara anggota) dituangkan dalam suatu perangkat aturan yang disebut Radio Regulation (RR) yang didalamnya digariskan antara lain tentang pengaturan alokasi frekuensi, parameter teknis suatu stasiun radio, prosedur notifikasi, koordinasi internasional dan aturan-aturan umum dalam pengoperasian suatu stasiun radio. Dalam makalah ini aspek regulasi yang akan disoroti dibatasi hanya pada masalah yang berhubungan dengan pengaturan penggunaan spektrum frekuensi radio.

1. 1. 2. Pengaturan Penggunaan Spektrum Frekuensi

Berdasarkan Preambul dan Alinea 4 Radio Regulation secara umum dapat diambil inti sari pengaturan-pengaturannya antara lain sebagai berikut:

  • Setiap administrasi (negara) hendaknya membatasi jumlah pengguna spektrum frekuensi sampai batas minimum esensial (yang benar-benar diperlukan) untuk mencapai kondisi yang memuaskan pada setiap penggunaan spektrum.
  • Semua stasiun, untuk keperluan apapun hendaknya dibangun dan dioperasikan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan interferensi yang merugikan bagi pengguna yang lain termasuk administrasi yang lain.
  • Penggunaan baru dari suatu spektrum atau perubahan karakteristik teknis dari suatu sistem yang telah ada hendaknya dibuat sedemikian rupa untuk menghindari interferensi yang merugikan bagi sistem yang telah beroperasi sesuai dengan tabel alokasi frekuensi dan karakteristik sistem yang telah dicatat pada Master International Frequency Register (MIFR).
  • Negara (administrasi) pengguna suatu spektrum harus mendaftar kepada Radiocommunication Bureau (RB) sesuai dengan prosedur dalam Radio Regulation dan sesuai dengan urutan yang telah ditetapkan.
  • Pendaftaran pada RB dimaksudkan untuk memenuhi dua tujuan yaitu :
    • Pertama, untuk memastikan bahwa frekuensi yang didaftarkan (new assignment) tidak menimbulkan gangguan bagi negara lain baik network yang telah ada maupun network yang telah direncanakan.
    • Kedua, pendaftaran demikian akan memberikan kesempatan dikenali oleh pengguna lain (calon pengguna) sehingga memberikan “proteksi” bagi pengguna yang didaftarkan tersebut.
  • RB akan menerbitkan informasi tentang assignment yang didaftarkan dalam weekly circular kepada seluruh administrasi yang diperkirakan akan terpengaruh dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memberikan reaksi atas assignment baru tersebut.

1.2. Regulasi Dalam Negeri Ada dua aspek regulasi dalam negeri yang relevan untuk dibahas yaitu respon pemerintah dalam menyikapi perubahan regulasi global dan kebijakan pemerintah dalam mengatur penyelenggaraan telekomunikasi dalam negeri.

  • Pertama perihal respon pemerintah terhadap perkembangan regulasi global, apakah besar frekuensi carrier (terestrial) yang telah didaftar pada Direktorat Bina Frekuensi Ditjen Postel telah terdaftar dalam RB ?
  • Kedua, trend pola kebijakan pemerintah yang menerapkan penyertaan modal swasta baik asing maupun domestik melalui pola kerja sama dengan BUMN. Keperpihakan pemerintah pada salah satu pihak swasta akan menyebabkan in efisiensi, seperti yang sekarang terjadi.

2. Aspek Bisnis (Pangsa Pasar / Marketing) Berdasarkan desain sistemnya, sejumlah GMPCS dirancang mampu melayani hampir semua jenis layanan yang tersedia pada jaringan terestrial serta memiliki kelebihan pada layanan data simetri dengan data rate yang fleksibel. Meskipun GMPCS menerapkan teknologi satelit yang telah berumur 50 tahun, namun untuk aplikasi layanan interaktif masih terdapat kendala yang mengganggu kualitas layanannya. Untuk mengetahui sejauh mana kualitas layanan yang dapat diberikan GMPCS, berikut ini dianalisis aplikasi layanan ke Indonesia oleh sejumlah GMPCS builder, serta proyeksi pasar dan peluang bisnisnya.

2.1. Fix & Selular Telepon GMPCS

Layanan telepon GMPCS menerapkan teknologi yang relatif lebih kompleks dan maju dibanding layanan telepon melalui jaringan terestrial. Namun dukungan teknologi maju tersebut belum menjamin dicapainya kualitas layanan telepon GSM yang menyamai atau lebih baik dibanding layanan telepon terestrial. Selain hukum alam yang membatasi teknologi sendiri, GMPCS builder juga mempertimbangkan keseimbangan harga resources (bandwidth, perangkat dll.) dengan harga jual produk (layanan telepon) itu sendiri. Beberapa parameter yang mempengaruhi kualitas layanan telepon tersebut diantaranya adalah frekuensi operasi, end-to-end delay, voice information rate serta trade-off kualitas layanan tersebut terhadap harga layanannya. Pertumbuhan dan perkembangan ekonomi di Asia telah mendorong kebutuhan akan pelayanan jauh di atas kemampuan fasilitas telekomunikasi yang ada. Namun biaya dan waktu yang lama untuk membangun jaringan konvensional maka GMPCS merupakan salah satu alternatif teknologi yang memungkinkan dalam meningkatkan kualitas dan menjangkau fasilitas publik termasuk jaringan komunikasi bergerak yang telah ada. Karena melebarnya gap antara kebutuhan dan ketersediaan, maka kebutuhan GMPCS untuk data dan suara, di Asia banyak didorong oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Meningkatnya kebutuhan akan pelayanan PSTN baik lokal, SLJJ maupun internasional.
  • Meningkatnya kebutuhan akan jasa selular dan paging.
  • Masalah kompatibilitas, yang berhubungan dengan roaming celullar domestik maupun internasional.
  • Meningkatnya kebutuhan untuk pelayanan global termasuk paging, fax dan data bergerak.
  • Turunnya harga perangkat dan terminal secara relatif cepat.

Tingginya ekspansi pelayanan telekomunikasi di Asia akan mencapai lebih dari 3 kali penetration rate dari populasi antara tahun 1995 dan 2000 (lihat Tabel-2). Namun rate ini masih tertinggal jauh dibandingkan negara maju yang sudah melampaui perkiraan ini. Pengaruh GMPCS di negara berkembang dapat diukur dengan memproyeksikan pertumbuhan pendapatan dan pelanggan sampai tahun 2010.

Dalam Tabel-2 terlihat bahwa untuk sistem sejenis Teledesic, cut over akan terjadi sekitar perioda 2001 – 2005 meningkatkan proyeksi kapasitas pelanggan yang tersedia dan meningkatkan ketersediaan pelayanan GMPCS khususnya penyediaan suara dan data. Berdasarkan Tabel-2 dan Tabel-3 kenaikan penetrasi pelanggan GMPCS di kawasan Asia dalam kurun waktu 2000 – 2010 akan mencapai 320% menjadi 7,85% pada tahun 2010. Penetrasi GMPCS tersebut akan mengisi sekitar 24% dari penetrasi jasa telekomunikasi di Asia

Distribusi kontribusi penetrasi layanan GMPCS pada tahun 2010 untuk kawasan Asia masing-masing adalah layanan Cellular sebesar 57%, Fix line service 20% dan Paging 22% dari total penetrasi GMPCS. Keadaan tersebut memperlihatkan bahwa kehadiran GMPCS sangat mempengaruhi laju peningkatan penetrasi Cellular Terrestrial yaitu dengan menyerap pasar cellular sebesar 58% pada tahun 2005 dan sebesar 49% pada tahun 2010. Meskipun GMPCS pada tahun 2010 berpengaruh besar terhadap pasar Cellular Terrestrial namun kondisi tersebut tidak terjadi pada main line / fix terminal yang hanya berkontribusi sekitar 12% dari penetrasi fix line total maupun paging GMPCS yang hanya memiliki kontribusi sebesar sekitar 21% terhadap penetrasi paging pada waktu itu.

2.2. Akses Internet via GMPCS

Sebagai salah satu jenis layanan telekomunikasi yang laju pertumbuhannya sangat menakjubkan, Internet cukup menarik perhatian network provider termasuk GMPCS builder untuk menyediakan infrastruktur layanan Internet. GMPCS yang rata-rata memiliki kelebihan dalam penyediaan asimetris rate untuk komunikasi interaktif dapat menyediakan layanan dalam segi akses Internet dengan information rate yang fleksibel. Meskipun performansi layanan Internet tidak bergantung pada kemampuan jaringan akses belaka tetapi juga bergantung kepada jaringan terestrialnya, namun oleh karena layanan Internet sudah berkembang pesat pada jaringan terestrial, maka kemampuan teknologi terestrial untuk layanan Internet sudah diantisipasi sebelumnya. Di sisi lain walaupun teknologi yang sudah berumur hampir 50 tahun dan sudah mengalami kemajuan dalam peningkatan sumber daya bandwidth namun masalah latent yang masih belum bisa mendekati kemampuan jaringan terestrial adalah delay propagasi. Meskipun gangguan delay ini sudah banyak dimaklumi oleh pemakai jasa telepon pada pembicaraan jarak jauh maupun internasional, namun sejauh mana delay ini akan mengurangi performansi layanan Internet melalui GMPCS maka kondisi ini sangat bergantung letak orbit satelit GMPCS tersebut dan protokol yang diterapkannya. Mengingat Internet sudah memiliki komunitas yang besar maka perkembangan jasa Internet di kemudian hari secara otomatis juga tidak terlepas dari standar dan aplikasi yang sudah ada. Sampai saat ini dengan mempertimbangkan pertumbuhan Host Internet di seluruh dunia selama 2 tahun terakhir yang hampir mencapai 400% menjadi sekitar 9,5 juta Host Internet dan masih didominasi dengan aplikasi protokol TCP/IP serta WWW, maka pengaruh protokol dan aplikasi tersebut perlu dipertimbangkan pula pada layanan akses Internet melalui GMPCS. TCP merupakan standar protokol untuk transfer informasi/data yang menjamin sampainya informasi/data pada pengguna Internet dalam format yang sama dengan yang ada pada pengirimnya. TCP/IP yang didesain dan telah berfungsi dengan baik pada jaringan terestrial dalam urutan protokolnya, pengirim international packet memerlukan acknowledgement packet dari penerima paket sebelum bisa meneruskan pengiriman information packet berikutnya. Sebagai resiko dari penerapan protokol tersebut, setiap pengiriman paket informasi minimal mengkonsumsi waktu sebesar panjang paket informasi ditambah round trip delay propagasi antara terminal pengirim dan penerima. Jadi sebagai dampak penerapan protokol adalah makin tingginya delay propagasi mengakibatkan penggunaan bandwidth satelit akan semakin rendah pula. Sebagai gambaran pengaruh delay terhadap efisiensi bandwidth dari 3 tipe orbit satelit seperti ditunjukkan dalam Tabel-4.

Berdasarkan Tabel-4 terlihat jelas keunggulan GMPCS LEO terhadap GMPCS GEO dalam efisiensi pemanfaatan link untuk layanan Internet. Efisiensi pemanfaatan link pada GMPCS dengan satelit GEO selalu lebih rendah dibanding pada GMPCS satelit LEO. Apabila ingin menaikkan efisiensi pemanfaatan link pada GMPCS dengan satelit GEO berarti perlu adanya peningkatan ukuran paket dan buffer baik yang ada Host maupun client terminal. Jadi dilema pelayanan akses Internet melalui GMPCS dengan satelit GEO yaitu apabila kita menggunakan user terminal dan protokol eksisting maka efisiensi pemanfaatan link-nya rendah atau dengan peningkatan/perubahan kemampuan terminalnya berarti peningkatan biaya pada sisi pengguna. Selanjutnya perlu dipertanyakan solusi apa yang diterapkan GMPCS LEO builder untuk mengatasi dilema tersebut. Mengingat transfer protokol data merupakan protokol end-to-end berarti pemakaian protokol baru pada user terminal GMPCS GEO harus diikuti perubahan pada Host Terminal yang telah ada dalam jumlah besar di jaringan terestrial.

2.3. Aplikasi World Wide Web

Aplikasi WWW saat ini menjadi program aplikasi yang sangat populer digunakan pada jaringan Internet maupun Intranet. Seperti halnya TCP/IP aplikasi WWW juga dikembangkan dari jaringan terestrial, oleh karena itu perlu dipertimbangkan adanya permasalahan yang timbul jika diterapkan pada jaringan non terestrial terutama GMPCS GEO. Setiap Internet User mengakses Web page (teks, grafik, suara dsb.) maka Web page akan dibagi menjadi beberapa bagian dan ditransfer ke user terminal melalui transaksi. Apabila akses Internet tersebut dilaksanakan melalui GMPCS GEO maka setiap transaksi tersebut memerlukan waktu tambahan minmal sebesar 1 round trip delay atau 500 ms. Apabila setiap Web page memerlukan 3 kali transaksi maka ini berarti setiap Web page akan memerlukan waktu minimal 1,5 detik. Ini berarti pula pengguna Internet via GMPCS GEO harus mengkonsumsi waktu pendudukan sirkit yang jauh lebih lama dibanding akses Internet melalui jaringan terestrial maupun GMPCS LEO. Adanya overhead delay yang relatif lebih lama pada akses Web page Internet melalui GMPCS GEO akan menimbulkan bottleneck antrian protokol TCP pada Host yang selanjutnya tidak hanya menurunkan efisiensi pemanfaatan sirkit user Internet GMPCS GEO saja tetapi juga dialami oleh user Internet terestrial yang mengakses Host yang sama. GMPCS GEO builder tentu sudah mengantisipasi adanya masalah inefficiency pemakaian link pada akses Internet melalui GMPCS GEO. Sejumlah solusi yang telah dicoba diantaranya adalah dengan memodifikasi protokol yaitu dengan implementasi “RFC-1323” (Request For Comment 1323) dan dengan spoofing TCP acknowledgement. Pengimplementasian RCF 1323 dengan memperbesar buffer pada windows host maupun User Internet Terminal maupun pengimplementasian spoofing dengan modifikasi TCP acknowledgement secara teknik dapat dilaksanakan. Namun karena TCP merupakan protokol end-to-end berarti memodifikasi protokol tersebut tidak hanya pada komputer pelanggan Internet melalui GMPCS GEO saja tetapi juga harus dilakukan pada komputer pelanggan Internet eksisting. Secara internasional, prospek jasa internet yang ada pada awal keberadaannya masih tumbuh dengan lambat, tahun 1994 mulai menunjukkan prospek yang cerah. Dalam kurun waktu 2 tahun terakhir jumlah Host Internet meningkat dari sekitar 2.200.000 host menjadi 9.500.000 host pada Januari 1996 atau dengan laju pertumbuhan di atas 100% per-tahunnya. Akan tetapi distribusi dari host Internet tersebut masih belum merata dan masih terkonsentrasi di Amerika. Berdasarkan estimasi Investor Business daily 60% dari host yang ada masih berlokasi di Amerika dan sisanya (40%) terdistribusi di negara Jerman, Inggeris dan Australia masing-masing 5%, Canada 4%, Perancis 3% dan sisanya (18%) terdistribusi di negara-negara lainnya. Kondisi tersebut juga dapat menggambarkan distribusi pelanggan akses yang ada di dunia saat ini. Pemakai Internet di Amerika apabila dilihat dari latar belakang pemakainya, Dataquest memperkirakan 70% biaya akses diperoleh dari lembaga bisnis dan pendidikan, sedangkan yang 30% dari kelompok individu. Pemakai Internet tersebut mayoritas (66%) berusia muda dengan umur rata-rata 31 tahun serta memiliki latar belakang penghasilan di atas rata-rata.

2.4. Direct to Home Television (DTH-TV) via GMPCS

Meskipun layanan DTH-TV baru dimulai sekitar tahun 80-an memasuki kawasan Asia Pasifik, namun tampaknya tidak ada kendala dalam teknologi aplikasinya. Hal ini terjadi karena teknologi DTH-TV tidak jauh berbeda dengan siaran TV biasa. Perubahan teknologi yang terjadi cenderung berkisar pada peningkatan efisiensi sumber daya frekuensi dengan penerapan digit compressed. Karena sifat aliran informasinya searah (down stream) maka delay signal pada DTH-TV melalui GMPCS tidak berpengaruh pada kualitas pelayanan. Dari sisi pasar, sampai dengan Desember 1995 pemakaian kanal satelit di Asia Pasifik untuk pelayanan TV masih relatif kecil prosentasenya dibanding untuk layanan suara dan data. Dari 1102 transponder di orbit hanya sekitar 297 transponder atau hanya sekitar 26,9% dari kapasitas yang ada digunakan untuk layanan TV. Selain itu seperti ditunjukkan dalam Tabel-5 revenue penyelenggara siaran TV dari iklan juga masih relatif kecil jika dibanding dengan revenue jasa telekomunikasi. Selanjutnya untuk melihat prospek DTH-TV di masa mendatang perlu melihat sejumlah kondisi seperti berikut :

  • Revenue penyelenggara siaran TV termasuk DTH-TV sangat terpengaruh dengan pendapatan perkapita negara. Karena itu prospek DTH-TV sangat bergantung pada pertumbuhan pendapatan perkapita sehingga hanya pada negara Asia-Pasifik yang pendapatan perkapita-nya tinggi saja yang memiliki prospek bisnis DTH-TV cukup baik.
  • Meskipun pasar iklan pada tahun 2000 diperkirakan akan mencapai nilai US $ 27 milyar namun distribusinya tidak merata atau sekitar US $ 17 milyar (62%) diantaranya berlokasi di pasar Jepang , sedangkan di pasar Asia-Pasifik lainnya masih rendah, masing-masing US $ 5 milyar.
  • Sudah banyak siaran TV (swasta maupun pemerintah) yang telah memberikan siaran tanpa mengenakan tarif pada pemakaiya.
  • Masih banyak proyek DTH-TV yang telah, sedang dan akan berlangsung terus mengembangkan kapasitasnya untuk memperebutkan pasar yang terbatas tersebut.

Mempertimbangkan kondisi di atas terlihat bahwa prospek bisnis DTH-TV di kawasan Asia-Pasifik selain Jepang masih menghadapi tantangan bisnis yang kurang menguntungkan. 3. Aspek Interkoneksi

Untuk memberi gambaran interkoneksi antara sistem GMPCS dengan jaringan eksisting sebagai sampel dalam Gambar 1 diperlihatkan Konfigurasi Sistem ICO. Analisis dari aspek interkoneksi seperti nampak dalam Gambar 1, untuk memungkinkan jalinan komunikasi dengan jaringan eksisting mutlak diperlukan kerja sama dengan pengelola yang telah ada, ini berarti adanya ketergantungan pendatang baru terhadap operator yang telah ada. Hingga di sini dalam pengambilan kebijakan pola kerja sama PT. TELKOM dapat mengajukan sejumlah persyaratan dengan memperhatikan kepentingan eksistensi atau kelangsungan hidup PT. TELKOM itu sendiri. Namun apabila tidak dicapai kesepakatan, maka operator global hanya dapat membangun komunikasi antar pengguna komunikasi global itu sendiri tanpa dapat mengakses jaringan yang telah eksis. Dalam situasi seperti ini ada aspek lain yang harus diperhitungkan yaitu laju pertumbuhan pengguna komunikasi global dan kemungkinan berpalingnya pengguna ke operator global. Kedua hal ini ditentukan oleh kompetisi pembebanan tarip (charging), kualitas pelayanan dan keanekaragaman jenis layanan yang tersedia sesuai kebutuhan user.

4. Aspek Pentaripan

Dari segi pentaripan, seperti terlihat dalam Tabel 1, call rate terendah yang ditawarkan adalah yang ditawarkan oleh Teledesic yaitu sebesar $ 0,04 per menit, atau dengan kurs saat ini (Rp. 6.500,-/$) kira-kira Rp 260,- per menit. Sementara PT. TELKOM untuk percakapan SLJJ dengan rate tertinggi (zona III pada hari kerja antara jam 09.00-15.00) mengenakan beban sebesar Rp 2.025,- Dari asumsi ini maka kemungkinan berpalingnya kastamer ke operator global sangat besar belum lagi jika kualitas pelayanan/ performansinya lebih baik walaupun saat ini dalam layanan interaktif, komunikasi global via satelit masih mengalami kendala terutama delay namun melihat perkembangan teknologi, hal ini bukan suatu hal yang mustahil dapat teratasi dalam waktu dekat. Sedangkan dari segi keanekaragaman layanan GMPCS menawarkan prospek jenis layanan yang cukup lengkap untuk memenuhi kebutuhan pengguna.

Kesimpulan

Dari semua uraian pada bab-bab sebelumnya, dapatlah ditarik kesimpulan sebagai berikut :

  1. Kehadiran Komunikasi Global di Indonesia tidak dapat dihindari dengan regulasi dalam negeri bentuk apapun.
  2. Layanan yang ditawarkan memiliki banyak kelebihan dalam fitur walaupun dengan kualitas yang belum tentu lebih baik dari sistem terestrial, namun bagaimanapun perlu langkah antisipasip.
  3. Dalam konteks beroperasinya operator global di Indonesia telah timbul polemik legalitas penggunaan spektrum frekuensi akibat perubahan regulasi global karena kemajuan teknologi.

Daftar Pustaka

  1. APSCC-96, PSN
  2. Pyramid Research Inc
  3. Baskerville 1996 and Telecom
  4. Asia Dec 1996
  5. Manval Hand Book GMPCS
  6. Majalah Gematel 08/XXVIII/1997
  7. Memorandum of Understanding GMPCS
  8. Perkembangan Teknologi Satelit, Nanang Hendarno, Artikel Lepas GEMATEL Edisi 15/XXVIII, Januari 1996
  9. Orbit satelit, Hazim Ahmadi, Artikel Lepas Edisi 15/XXVIII, Januari 1996
  10. The ICO System A-Technical Description, ICO

Ir. Hasudungan Manurung, MT.,IPM, dan Kris Sujatmoko, ST. keduanya adalah pengajar dan peneliti di STTTELKOM.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: